KARBALA-ISME

SAYA sengaja memilih judul yang terkesan aneh ini untuk tulisan saya seputar peristiwa Karbala dengan beberapa pertimbangan. Pertama, peristiwa paling hitam di Karbala (Irak) yang terjadi kira-kira 14 abad silam di hari Asyura (saya kira pembaca sudah tahu, apa yang terjadi waktu dan di tempat itu) bukan lagi sebatas sebuah legenda atau cerita turun temurun. Tapi lebih merupakan semangat religius dan ajaran falsafi tentang bagaimana membaca, menghayati, dan menempuh arung kehidupan. Dengan kata lain, dari sudut penghayatan, tragedi Karbala bukan hanya peristiwa yang terjadi di masa lalu dan “di sana”, tapi terus berlangsung sekarang dan “di sini”.
Continue reading

Peristiwa-peristiwa alam saat dan sesudah Imam Husein (as) terbunuh

Dalam Sunan Al-Baihaqi 3: 337, hadis ke 6352:

Abu Qubail berkata: “Ketika Al-Husein bin Ali (as) terbunuh, terjadi gerhana matahari dan semua bintang nampak di siang hari, sehingga kami mengira hal itu terjadi demikian.” (juga dalam Majma’ Az-Zawaid 9: 197).

Dalam Tahdzib At-Tahdzib 2: 354, hadis ke 615: Continue reading

Sejarah Singkat Majelis Ratapan al Husain

Kisah Karbala merupakan peristiwa terbesar dan paling tragis yang senantiasa hidup dan selalu dikenang dengan air mata tangisan, walau telah berlalu sepanjang empat belas abad.

Majelis ratapan atas kesyahidan Imam Husain as pertama kali diadakan oleh Ahlul Bait pada tanggal sebelas bulan Muharram 61 HQ, di sisi jasad para syahid Karbala. Continue reading

Hadits Mutawâtir lafzi, Maknawi, dan Ijmâli

1. Berapa banyak jumlah sanad-sanad hadis harus berstatus shahih al-asnâd sehingga tergolong sebagai hadis mutawâtir lafzi?

2. Berapa banyak jumlah sanad-sanad hadis harus berstatus shahih al-asnâd sehingga tergolong sebagai hadis mutawâtir maknawi?

3. Berapa banyak jumlah sanad-sanad hadis harus berstatus shahih al-asnâd sehingga tergolong sebagai hadis mutawâtir ijmâli? Continue reading

PENANTIAN YANG PROGRESIF (Sebuah Telaah Terhadap Konsep Mahdiisme)

“Dan Kami hendak memberi karuniaKepada orang-orang tertindas di bumi ini,Dan hendak menjadikan mereka para Imam (pemimpin)

Serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.”

(QS. Al-Qashash, 28:5)

Dalam berbagai literatur, ada banyak teori mengenai sebab terjadinya perubahan sosial. Salah satu diantaranya menyebutkan bahwa yang mempengaruhi terjadinya perubahan dalam sejarah sebenarnya adalah great individuals (tokoh-tokoh besar) yang sering pula disebut dengan heroes (para pahlawan). Thomas Carlyle bahkan menulis bukunya dengan judul On Heroes, Hero Worship, and The Heroic in History (Para Pahlawan, Pemujaan-Pahlawan dan Kepahlawanan dalam sejarah). Dan Carlyle beserta pemikir-pemikir semacamnya pernah menyatakan bahwa perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat. Inilah yang oleh para sosiolog dinamakan dengan great individuals as historical force. Continue reading

HIKMAH AL-ISRAQIYAH: MENTELAAH SISI EKSISTENSIALISME TEOSOFI TRANSENDEN MULLA SADRA

Piramida pengetahuan menggambarkan bahwa pemikir yang datang kemudian bertumpu kepada perolehan pemikir-pemikir sebelumnya. Mulla Sadra, pendiri mazhab ketiga dalam pemikiran filsafat Islam, jelas mengatasi pemikiran filsafat Peripatetik Ibnu Sina dan mazhab yang kedua. Dari jurusan ini kelihatan bahwa existensialisme Mulla Sadra yang berciri dasar tauhid perjalanan mental dari makhluk menuju Tuhan, sifat-sifat keilahian bersama Tuhan dalam Tuhan, perbuatan ilahi dari Tuhan menuju makhluk dan tentang jiwa dan tujuannya dalam makhluk bersama Tuhan, menggabungkan tradisi pencarian filsuf-filsuf Muslim sebelumnya.

Keyword: Filsafat, Eksistensialisme, teosofi, tasauf

Continue reading

RASIONALITAS SYARIAT ISLAM

RASIONALITAS SYARIAT ISLAM

“Tsamarotul aqli luzuumul haqqi”; Hasil (mengikuti) akal adalah komitmen pada kebenaran. (Ali bin Abi Thalib as)

“Science without religion is lame, raligion without science is blind”; Ilmu pengetahuan tanpa agama niscaya lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta. (Albert Einstein)

Salah satu isu penting dalam diskursus Filsafat Agama adalah relasi agama dan rasio. Jika kita mengurut kronologi isu ini, akan kita dapati betapa peliknya para rohaniawan Kristen pada Abad Pertengahan dalam mempertahankan dogma-dogma agama yang banyak tidak sesuai dengan interpretasi akal dan ilmu pengetahuan[1]. Sehingga dari situ, muncullah beberapa pemikiran para intelektual yang ingin mengkritisi dogma-dogma tersebut, ataupun usaha-usaha meng-islah- kan ajaran agama dengan rasio. Tersusunlah apa yang disebut dengan “Teologi Baru” (new theology) sebagai satu usaha dalam rangka niatan tersebut. Continue reading

MENELUSURI LATAR BELAKANG GERAKAN ASYURA

Berdasarkan fakta sejarah, tampaknya di dunia kemanusiaan ini tak satu pun tragedi yang, meski telah terjadi beberapa abad sebelumnya, masih sangat berpengaruh dan membekas di benak umat manusia, seakan baru saja terjadi. Kita tidak menemukan tragedi yang demikian di sepanjang sejarah agama, dan bangsa atau negara manapun. Tentu, ada saja peristiwa yang terkadang masih diingat dan dikenang setelah ribuan tahun, namun itu hanya ingatan yang tak berkesan pada kehidupan masyarakat.

Adapun tragedi syahadah Imam Husein as. sungguh berbeda. Targedi yang setiap tahunnya seakan terus membaru dan efeknya semakin mendalam. Layak sekali jika diadakan kajian yang ekstensif seputar tragedi yang multi-dimensional ini, dan alhamdulillah di sini masyarakat mencintai dan menghormati Ahlulbayt as. Karena itulah mereka berusaha sebaik mungkin dalam rangka mengingat peristiwa Asyura. Dengan taufiq Allah, setiap tahunnya mereka dapat menunjukkan keterkaitan dan berduka di haribaan Imam penghulu para Syahid.

Kami berdoa agar Allah swt. menjaga para pemuda pencinta Sayyidush shuhada as. dari segenap malapetaka dan menambah iman serta kecintaan mereka kepada Imam Husein as. dan tidak mencabut kebanggaan ini dari bangsa kita, khususnya dari anak-anak muda kita. Continue reading

Konsep Ketuhanan dalam Filsafat Iluminasionis

Syihabuddin Abul Fatuh Yahya bin Habsy bin Amirak Suhrawardi adalah pendiri aliran filsafat Islam Hikmatul Isyraq (Iluminasionis). Dia dilahirkan di Suhrawad pada tahun 549 H.
Beberapa tahun kemudian dia pergi ke kota Maraghih dan belajar filsafat dan ushul fiqih pada seorang ulama bernama Majduddin Jily. Setelah itu dia berangkat ke kota Ishfahan dan belajar kitab al-bashair (kitab ilmu logika) pada Zahîruddin Farsi.
Continue reading

Melacak Akar dan Manifesto Liberalisme

[Neo Teologi] Melacak Akar dan Manifesto Liberalisme
Fenomena Liberalisme merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji, ditelaah, diriset dan kemudian dikritisi. Dalam tulisan ringan ini, kita akan membahas secara global tentang akar sejarah kemunculan Liberalisme dan pada kesempatan berikutnya melontarkan telaah kritis atas fenomena liberalisme dalam dan luar negeri. Continue reading
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.